Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan

KEBERSAMAAN DALAM KELUARGA

Diposting oleh Unknown on Selasa, 04 Juni 2013

Kesulitan akan lebih mudah kita atasi dengan kebersamaan. Hal tersebut bisa dibina dan ditanamkan terlebih dahulu untuk diri kita sendiri. Sejauh mana tingkat kepedulian kita terhadap orang tua kita, sejauh mana tingkat kepekaan kita untuk meraba setiap kesulitan kakak dan adik kita? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dengan adik dan kakak kita yang sudah hidup terpisah? Atau jangan – jangan hanya untuk sekadar meneleponpun kita enggan untuk memulai. Percayalah, bahwa kita butuh kedekatan dengan saudara sendiri. Kita butuh berbincang dan berbagi rasa dengan mereka, kita pun butuh untuk melihat mereka bahagia. Mengapa untuk teman sejawat di kantor kita bisa seperti saudara sedangkan untuk saudara sendiri malah seperti tidak ada ikatan apa – apa?

Seorang ibu selalu terbangun di pukul 3 ketika sang fajar mulai menapaki bumi. Anak–anaknya masih tertidur. Beliau berjalan ke dapur, menyalakan tungku dengan bingkahan kayu kering yang disiram dengan sedikit minyak tanah. Asap mulai merambat naik, mengepul. Rutinitas pagi dimulai: Menanak nasi, menghangatkan gulai tahu dan telur, membuat sambal goreng, perkedel dan lain – lainnya. Masakan khas untuk dijual di warung nasi yang sangat sederhana.

Jam 6:30 pagi warung sudah mulai dibuka. Masakan yang dimasak dirumah dibawa kepasar, anak – anak bergotong royong. Anak pertama dan bapak bertugas membuka warung. Mereka membawa termos yang berisi nasi panas mengepul dan ceret teko berisi air yang tidak kalah panasnya. Anak kedua bertugas membawa masakan gulai ikan dan lain – lain. Anak ketiga bertugas membawa kue, perkedel dan telur goreng yang masih hangat. Anak keempat tugasnya agak ringan, dia membawakan serbet dan taplak yang baru selesai dicuci kemarin. Keempat anak tersebut pergi kepasar dengan mengenakan seragam sekolah. Dari pasar, mereka langsung menuju sekolahnya masing – masing.

Sepulang sekolah, semua anaknya secara rutin dan otomatis akan pulang. Bukan ke rumah, melainkan menuju warung. Mereka makan siang di luar, di warung nasi milik mereka. Pada menit berikutnya mereka akan berebutan untuk membaca koran langganannya. Kemudian bapak istirahat siang, dan anak – anak menggantikan sementara tugas bapak diwarung. Tidak jarang, salah satu anaknya harus menggeser dan naik ke atas bangku untuk melayani pembeli. Karena umur dan fisiknya belumlah cukup untuk melakukan tugas tersebut. Anak yang lain mencuci piring dan mengelap meja. Untuk sementara, warung dijaga oleh petugas berseragam. Bukan petugas sebagaiman yang biasa kita lihat di restoran fastfood. Namun petugas anak – anak yang berseragam sekolah.

Kesulitan ekonomi dalam mencukupi setiap kebutuhan selalu datang setiap saat. Bukan hal yang aneh jika keluarga tersebut mengalami pengusiran dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Mereka, sebuah keluarga perantauan dari tanah seberang yang jauh dari sanak saudara, seperti biasa, motif ekonomilah yang menghantarkan mereka berjauhan dengan sanak family. Mereka berusaha untuk bertemu dengan nasib yang lebih baik. Semoga dengan begitu, takdir akan mempertemukan mereka dengan segala mimipi yang mereka punya. Orang tuanya menyimpan mimpi agar ke tujuh anaknya bisa sekolah dengan baik dan bisa mendapatkan wawasan yang baik. Mereka tidak ingin terkungkung oleh kondisi kesulitan ekonomi yang menjeratnya.

Untuk ukuran dengan latar belakang ekonomi seperti itu adalah suatu hal yang sangat ajaib. Sebuah harmonisasi cerita yang tersimpan sejuta kisah dalam melewati setiap babak peristiwa hingga mencapai buah yang manis untuk dinikmati sekarang. Buah dari kerja keras dan do’a. dan kebaikan Allah semata hingga menggiring semua langkah setiap individu pada keluarga tersebut mempunyai daya juang yang tinggi, mempunyai cita – cita yang tinggi pula. Allah memberikan karunia-NYA dengan cara memberikan kekuatan kepada mereka semua untuk bisa melewati setiap proses penempaan kesulitan.

Semua kesulitan tersebut mereka lewati dengan bahu membahu dan kerjasama. Jika satu kakaknya telah lulus dan mempunyai penghasilan, maka secara otomatis akan terjadi estafet tanggung jawab. Dia akan mengambil peran untuk mengambil tanggung jawab ekonomi keluarga secara sukarela.


Sumber:www.facebook.com
Baca selengkapnya tentangKEBERSAMAAN DALAM KELUARGA

HATI TERPAUT KE MASJID

Diposting oleh Unknown on Minggu, 28 April 2013

Inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabiin yang ahli ibadah, imam Amir bin Abdullah bin Zubair bin Awwam Al-Asadi. Ulama rabbani yang lahir dari keturunan sahabat yang mulia ini sangat tekun menjaga sholat berjamaah di masjid. Pada saat ia sakit keras yang menyebabkannya meninggal, ia masih sempat mendengar kumandang adzan Magrib dari masjid nabawi. Ia pun memerintahkan kepada keluarganya untuk memapahnya ke masjid.

Bawalah aku ke masjid!

Engkau sedang sakit keras. jawab keluarganya.

Bagaimana aku mendengar panggilan Allah lalu aku tidak mendatanginya? tukas Amir bin Abdullah.

Dengan terpaksa keluarganya memapahnya ke masjid. Ia memaksakan berdiri di tengah shaf bersama jama'ah lainnya. Ia masih mampu mengikuti bacaan dan gerakan imam sampai rakaat pertama. Tatkala imam dan seluruh ma'mum lainnya bangkit untuk rakaat kedua, Amir bin Abdullah tidak mampu bangkit lagi. Allah telah memanggil ruhnya untuk selamanya. Ia meninggal dalam keadaan sujud kepada Allah di tengah shaf, di masjid nabawi yang diberkahi. Subhanallah! (Siyar Alam An-Nubala, 5/220).

Dan inilah kisah ketauladanan dari seorang ulama tabiin senior, Rabi bin Khutsaim bi bin Aidz Abu Yazid Ats-Tsauri. Ia seorang ulama dan ahli ibadah di kota Kufah. Keshalihan, ketekunan ibadah dan kedalaman ilmunya diakui oleh ulama senior sahabat. Sahabat Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu berkata kepadanya, Wahai Abu Yazid, sekiranya Rosulullah shallallahu 'alaihi wa salam melihatmu, pasti beliau akan mencintaimu. Tidaklah aku melihatmu, melainkan aku teringat akan orang-orang yang tekun beribadah.

Pada masa tuanya, Rabi bin Khutsaim mengalami lumpuh separuh badannya. Meski demikian ia tetap memaksakan diri untuk menghadiri sholat berjama'ah di masjid. Ia meminta keluarganya untuk memapah dirinya ke masjid.

Orang-orang berkata, Wahai Abu Yazid, sholatlah di rumah saja! Anda telah mendapatkan keringanan untuk sholat di rumah.

Benar, aku memang mendapatkan keringanan untuk sholat di rumah. Tapi aku masih bisa mendengar seruan muadzin hayya alash sholah..hayya 'alal falah (marilah menuju sholat marilah menuju keberuntungan).
Jika kalian masih bisa mendatangi seruan hayya alash sholah..hayya alal falah, maka datangilah meski dengan merangkak! (Siyar Alam An-Nubala, 4/260).

Orang-orang sholeh terdahulu telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana mengamalkan firman Allah Azza wa Jalla:

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang pasti termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah [9]: 18).

Mereka juga telah memberikan ketauladanan nyata kepada kita bagaimana menjadi orang-orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid, merindukan masjid dan sholat jamaah serta amal-amal kebaikan yang memakmurkan masjid.

Rosulullah SAW Bersabda : Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya: dan orang yang hatinya selalu bergantung dengan masjid. (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).


Sumber: http://www.facebook.com
Baca selengkapnya tentangHATI TERPAUT KE MASJID

FATIMAH AZ ZAHRO (Part III)

Diposting oleh Unknown on Rabu, 10 April 2013

Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah datang kepada Nabi Saw, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian Fatimah datang kepada Nabi Saw. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa sebabnya engkau datang, wahai anakku?" Fatimah menjawab :"Aku datang untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya, lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi Saw datang kepadanya, lalu bertanya : "Apakah keperluanmu?" Fatimah diam. Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda, wahai Rosululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa membantunya guna meringankan bebannya."

Kemudian Nabi Saw bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi Saw datang kepada mereka ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala, tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menutupi kaki, tampak kepala-kepala mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi Saw ... berdiri. Nabi Saw bersabda :"Tetaplah di tempat tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang kalian minta dariku?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi Saw bersabda: "Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucapkan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."

Hidup zuhud dan tekun beribadah adalah sifat yang dimiliki Fatimah Azzahra. Beliau menghayati hubungan yang ikhlas dengan Allah Swt. Sifat mulia yang dimilikinya sebagaimana telah diceritakan oleh Asma binti Umais, “Pada suatu hari aku berada dirumah Siti Fatimah Azzahra.Tiba-tiba ketika itu Rosulallah s.a.w. datang ke rumah Siti Fatimah. Ketika itu Sitti Fatimah memakai seuntai kalung emas pemberian suaminya Imam Ali bin Abi Thalib k.w. Ketika Rosulullah melihat kalung itu, lalu Nabi Saw bersabda, “Hai anakku apakah engkau bangga disebut orang sebagai putri Muhammad, sedangkan engkau sendiri memakai jaababirah ? “(perhiasan yang biasa dipakai oleh putri bangsawan). Ketika itu juga Siti Fatimah melepaskan kalungnya itu, dan menjualnya. Hasil dari harga kalung tersebut Siti Fatimah membeli seorang hamba dan hamba tersebut dimerdekakan. Ketika Rosulallah Saw mendengar berita tersebut Nabi Saw amat bergembira dan mendo’akan Fatimah sekeluarga.  

Itulah Sayyidah Fatimah Azzahra, wanita termulia sepanjang jaman. Dia adalah hasil pendidikan sempurna madrasah Rosulullah Saw. Tidak ada orang yang sangat mirip jalan, cara bicara, akhlak dan kemuliaanya dengan Rosulullah Saw selain Fatimah.

Fatimah adalah sosok sempurna, cerdas, sederhana, berakhlak mulia dan dibebaskan dari segala dosa. Maka tidak heran kalau Rasul saw bersabda: “Allah ridha dengan keridhaan Fatimah dan marah karena kemarahannya,” . (Al-Hadits).

Baca sebelumnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part I)

Baca sebelumnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part II)
Baca selengkapnya tentangFATIMAH AZ ZAHRO (Part III)

FATIMAH AZ ZAHRO (Part II)

Diposting oleh Unknown on Selasa, 09 April 2013

Nabi Muhammad Saw begitu mencintai Fatimah. Tidak ada di jagad ini yang lebih beliau cintai ketimbang Fatimah. Setiap kali Rosulullah Saw hendak mengadakan perjalanan, rumah terakhir yang beliau pamiti adalah rumah Fatimah. Dan ketika al-Musthafa pulang dari perjalanan ke manapun, rumah pertama yang beliau datangi adalah rumah Fatimah. Fatimah betul-betul buah cinta Nabi, belahan jiwanya dan Nabi tak pernah sanggup untuk berpisah dengan putri tercintanya. Setiap kali Datang Fatimah dalam kondisi apapun, Nabi selalu menyambutnya, menciumnya  dan mendudukkannya di tempat yang mulia.

Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keutamaan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah'' r.a. dia berkata : "Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi Saw. Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan Rosulullah Saw. Ketika Nabi Saw melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata :"Selamat datang, puteriku."  Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi Saw berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu aku berkata kepada Fatimah : Rosulullah Saw telah berbisik kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi Saw. pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rosulullah Saw. kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rosul Allah Saw." Aisyah berkata :"Ketika Rosulullah Saw. wafat, aku berkata kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah kepadaku apa yang dikatakan Rosulullah Saw. kepadamu itu ?" Fatimah pun menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur''an sekali dalam setahun, dan sekarang dia memeriksa bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahuluimu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin wanita-wanita kaum Mukmin atau ummat ini ?" Fatimah berkata : "Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat."

Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghulu wanita penghuni syurga, puteri kekasih Robbil’alamiin, dan ibu dari Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rosulullah Saw menyelimuti Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya berkata : "Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." [Siyar A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88] .

Inilah Fatimah binti Muhammad Saw yang melayani diri sendiri dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-wanita sahabat keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin. Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi Saw, Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanya dengan air, sehingga darah semakin banyak yang keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan Tirmidzi).

Inilah dia, Fatimah Az-Zahra''. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling hingga berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya. Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia berkata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :"Bantulah pekerjaan puteri Rosulullah Saw di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan mencukupimu bekerja di dalam rumah : yaitu membuat adonan tepung, membuat roti dan menggiling gandum."

Baca sebelumnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part I)

Baca selanjutnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part III)


Baca selengkapnya tentangFATIMAH AZ ZAHRO (Part II)

FATIMAH AZ ZAHRO (Part I)

Diposting oleh Unknown on Senin, 08 April 2013

Fatimah adalah putri yang paling dicintai Nabi Saw.  sehingga beliau bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, siapa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan siapa yang mengganggunya juga menggangguku”.

Lahir pada hari Jum’at 20 Jumadil akhir Fatimah adalah putri kesayangan Nabi Saw. Fatimah mendapat gelar Assidiqah (wanita terpercaya), Athahirah (wanita suci) al-Mubarakah (yang diberikahi Allah), al-Muhadatsah (Yang diajak bicara Jibril as), Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab. Dia populer dengan sebutan Fatimah Azzahra (bunga yang mekar semerbak), sayyidatunnisa-i ahlil jannah (Penghulu para wanita di syurga).

Lahir dan dibesarkan di bawah naungan wahyu Ilahi yang diterima oleh ayahandanya Muhammad Saw. Fatimah dibesarkan ditengah atmosfir keluarga suci. Ayahnya adalah manusia termulia dan Ibunya adalah bangsawan terhormat, istri tercinta Nabi, Khadijah al-Kubro. Fatimah kecil tumbuh bersama ayahnya yang mulai menyebarkan Islam.

Sebagai anak yang lekat dengan ayahnya, Fatimah menyaksikan sendiri betapa halangan dan ancaman selalu menerpa ayahnya. Pernah suatu ketika Nabi Saw. dihina, dicaci-maki. Tidak hanya itu, orang-orang kafir melumuri tubuh suci Nabi dengan najis binatang ketika Nabi Saw. sedang sujud, menyembah Allah Swt. Dalam tangis penuh kesedihan, fatimah kecil membersihkan tubuh mulia ayahnya dari kotoran yang ditaburkan oleh kaum Quraish.

Sepeninggal istri terkasih, Khadijah al-kubro, perlakuan kaum kafir semakin menjadi. Sungguh bagaimanapun, Khadijah adalah salah seorang pelindung Nabi. Belum lagi ketika paman Nabi Saw Abu Thalib bin Abdul Mutholib juga meninggal, duka Nabi semakin memuncak. Inilah tahun kesedihan (yaumul huzn). 

Kaum kafir semakin mencengkeram, membabi buta menyerang Nabi. Tetapi dalam masa duka tersebut, tumbuh sekuntum bunga nan suci, penuh aroma syurgawi menenteramkan hati Nabi Saw. Gadis kecil belia kecintaan Muhammad Saw, setiap kali sang ayah dalam duka, dialah penghibur dan pelipur lara. Dialah yang menggantikan peran Ibunya, kasihnya mengalir dalam derai air mata dikala sang ayah diperlakukan tidak manusiawi oleh kaum kafir. Fatimah-lah yang kemudian dalam sejarah oleh Nabi Saw dijuluki Ummu Abiiha (Ibu dari ayahnya).

Allah Swt. selalu meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran, mata, hati dan jiwanya dengan kesempurnaan. Fatimah adalah orang yang paling erat hubungannya dengan Nabi Saw. dan paling menyayanginya. Ketika Nabi Saw. terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air dan membasuh mukanya. 

Baca selanjutnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part II) 

Baca selanjutnya di FATIMAH AZ ZAHRO (Part III)

Baca selengkapnya tentangFATIMAH AZ ZAHRO (Part I)

MENIKAH LAGI

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013

Keputusan Rosulullah SAW menikahi Saudah binti Zamah memang tak dapat diukur dengan standar manusia biasa. Apa yang dipilih oleh Rosulullah SAW dengan menikahi perempuan tua berkulit hitam, gemuk, dan tidak kaya tersebut memang hanya dapat dimengerti oleh dimensi iman. Satu-satunya dimensi yang dapat menerjemahkan arti ketulusan dan kesejatian cinta, hanya karena mengharap ridha Ilahi saja.

Diutamakan memilih jodoh adalah ahlaknya, Agamanya, dan yang tidak kalah penting ialah kesatuan visinya dijalan Allah, menegakkan Syiar Allah yang menjadi bagian kekuatan Agama seseorang, jadi penilaian kepada calon pendamping tetap ada.

Perempuan itu adalah Saudah binti Zamah RA yang dinikahi Rosulullah SAW tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Ia menjadi istri pertama yang dinikahi Rosulullah setelah wafatnya Khadijah. Saudah pulalah yang dipilih oleh Rosulullah meski ketika itu, secara bersamaan, Abu Bakar menawarkan Rosulullah SAW untuk menikahi anak gadisnya, Aisyah RA.

Sungguh, banyak yang terbelalak keheranan ketika Rosulullah SAW memutuskan untuk menikahi Saudah. Mengapa Rosulullah justru menikahi Saudah, perempuan yang jauh berbeda kondisinya dengan Khadijah RA dan memilihnya, justru di saat Abu Bakar menawarkan anak gadisnya?

Saudah pun terkenal dengan fisiknya yang tak rupawan. Sementara Rosulullah adalah puncak keagungan dengan fisik yang menawan. Sebagaimana diriwayatkan dari Barra bin Azib, Rosulullah adalah manusia yang paling rupawan dan baik akhlaknya. Tidak terlalu tinggi, tidak pula bertubuh pendek (HR. Bukhari).

Pernikahan inipun menjadi pesan sepanjang zaman mengambil tanggung jawab sebagai seorang pelindung dan pengayom perempuan dan anak-anak agar mereka tetap tumbuh berkembang dalam kasih sayang yang diarahkan kepada aturan Ad-Diin ini. Bervisikan menyebarkan Islam membina kekuatan, dengan keistiqomahan diatas keikhlasan, dengan prioritas memperhatikan Agama Si Calon. Dimana ia siap berkorban mengemban tanggung jawab, membina umat dengan kesungguhan.

Inilah yang diwasiatkan oleh pernikahan agung Rosulullah Muhammad SAW dengan Saudah binti Zamah. Perempuan yang juga mendapatkan kehormatan untuk menyusul kepergian Rosulullah SAW kembali ke pangkuan Robb-nya. Sejenak setelah Rosulullah SAW wafat.

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839
Baca selengkapnya tentangMENIKAH LAGI

MUSLIMAH PEMBELA ROSULULLAH SAW

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 23 Februari 2013

Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan mengikuti suami serta kedua orang anaknya ke medan perang. Pada saat itu Nusaibah menyaksikan betapa pasukan Muslimin mulai kocar-kacir dan musuh merangsek maju sementara Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri tanpa perisai. Seorang Muslim berlari mundur sambil membawa perisainya, maka Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam berseru kepadanya, "berikan perisaimu kepada yang berperang." Lelaki itu melemparkan perisainya yang lalu dipungut oleh Nusaibah untuk melindungi Nabi.

Ummu Umarah sendiri menuturkan pengalamannya pada Perang Uhud, sebagaimana berikut: "…saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka."

Rosulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi sang pemimpin orang-orang beriman.

Ketika ditanya tentang 12 luka ditubuhnya, Nusaibah menjawab, "Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang Rosulullah ketika para sahabat sedang meninggalkan baginda. Lalu (Ibnu Qumaiah) berkata, ‘mana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup.' Lalu Mushab bin Umair dengan beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibny Qumaiah memukulku."

Rosulullah juga melihat luka di belakang telinga Nusaibah, lalu berseru kepada anaknya, "Ibumu, ibumu…balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di syurga!" Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anak-nya, "Aku tidak perduli lagi apa yang menimpaku di dunia ini."


Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839
Baca selengkapnya tentangMUSLIMAH PEMBELA ROSULULLAH SAW

IKUTILAH PARA BUNDA TELADAN

Diposting oleh Unknown on Senin, 11 Februari 2013

Berkasih sayanglah kepada anak - anak kita seperti diteladankan oleh Ummu Hani binti Abu Thalib.Beliau begitu mengerti tentang agungnya hak seorang suami, sekaligus hak anak-anaknya. Maka ketika beliau telah berpisah dari suaminya karena keimanan, dan kemudian Rosulullah SAW meminangnya, namun dengan halus Ummu Hani menolak. Beliau berkata, Sesungguhnya aku ini seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan perhatian yang menyita banyak waktu. Sementara aku mengetahui betapa besar hak suami. Aku khawatir tidak akan mampu untuk menunaikan hak-hak suami. Mendengar hal itu, Rosulullah SAW pun akhirnya mengurungkan niatnya. Beliau mengatakan, Sebaik-baik wanita penunggang unta adalah wanita Quraisy, sangat penyayang terhadap anak-anaknya. Subhanallah, sang ibu rela berkorban, bahkan untuk tidak menjadi Ummul Muminin sekalipun demi memelihara anak-anaknya.

Semoga Al-Khansa binti Amru bisa menjadi contoh teladan bagi kita. Seorang ibu yang ikhlas karena Allah menguatkan hati anak - anaknya untuk tetap teguh di jalan tauhid. Beliau bahkan bergembira saat harus kehilangan keempat putranya karena syahid. Semangatnya sebagai seorang ibu, menjadi penguat jiwa anak - anaknya untuk membela agama Allah. Keteguhannya dalam iman, mengalahkan perasaan kewanitaannya yang secara manusiawi sangat ingin selalu bersama anak - anaknya. Namun begitulah, bukan dunia yang beliau harapkan, tapi kampung akheratlah yang menjadi tujuan. Bentuk kecintaan kepada Allah hingga yakin Allah akan menyediakan tempat yang jauh lebih baik mengumpulkan dirinya dan anak - anaknya. Syurga yang tanpa pajak, kotor, debu, sakit dan musibah seperti halnya didunia.

Ucapkanlah untaian doa - doa mulia untuk anak - anak kita seperti yang dilakukan oleh Ummu Habibah. Beliau tiada henti selalu berdoa kepada Allah demi kemuliaan anak- anaknya. Sampai akhirnya sang anak berusia 14 tahun, dan mengutarakan niatnya untuk mencari ilmu, beliau memanjatkan berdoa : Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!. Subhanallah, Allahpun mendengar pengharapan mulia dari ketulusan doa seorang ibu. Allah SWT kemudian memuliakan sang putra dengan ketinggian ilmu serta kebesaran namanya yang akan dikenang sepanjang sejarah. Putra beliau tersebut adalah Imam Syafiie.

Saat nanti kita menjadi ibu, maka pastikan bahwa kita bersyukur dan sangat berbahagia dengan kehadiran putra kita, seperti Ummu Abdi binti Abdi Wud. Beliau begitu bangga dengan sang putra yang memasuki usia remaja, Abdullah bin Masud, yang memperlihatkan memar di wajahnya karena berani membacakan beberapa ayat dari surat Ar Rahman di hadapan para pembesar Quraysy yang sangat membenci ajaran Rosulullah SAW. Beliaupun juga dengan rela membuka hatinya untuk berislam, dan menanggalkan kepercayaan jahiliyahnya. Bahkan setelah itu, beliau beristiqomah dalam islam dan tak henti- hentinya bersyukur karena sang anak telah membelanya di kehidupan dunia dan menyelamatkan kehidupannya kelak di akhirat.

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839
Baca selengkapnya tentangIKUTILAH PARA BUNDA TELADAN