ALTERNATIF MERAIH PAHALA HAJI DAN UMROH DIKALA BOKEK

Diposkan oleh arti hidup on Rabu, 05 Juni 2013

Setiap muslim tentu merindukan baitullah untuk menunaikan haji. Begitulah orang yang mencintai Allah. Hatinya selalu terpaut dengan rumah kekasihnya. Setiap kali disebut, hatinya semakin rindu menggebu. Kerap air mata berlinang ketika mengingatnya dari kejauhan. Sayang, tidak semua orang bisa mewujudkan harapannya menjadi tamu Allah di rumah-Nya. Karena ibadah haji termasuk ibadah ‘mewah’. Sulit dikerjakan tanpa menyediakan dana puluhan juta rupiah. Sekiranya ada dana, itupun masih terganjal kuota.

Begitu sulit meraih pahala haji. Bagi yang tidak berkemampuan, hanya bisa menumpahkan kerinduan itu di dalam do’anya. Untungnya, Allah Maha Penyayang menyediakan bagi hamba-Nya jalan alternatif untuk meraup pahala haji. Tanpa ONH, tanpa kuota, dan tidak perlu menunggu musim haji yang datangnya hanya setahun sekali. Diantara amal bernilai pahala haji ini disabdakan oleh Nabi SAW.

“Barang siapa sholat Subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu shalat dua rakaat, amalan itu baginya sama seperti pahala haji dan umrah. Anas berkata: Rosulullah melanjutkan, “Sempurna, sempurna, sempurna!” (HR. Tirmidzi, no. 586).

Inilah rangkaian amal setara haji itu; sholat Subuh berjama’ah, tetap duduk di tempat sholat, berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, dan sholat dua rakaat. Amal yang mudah dan murah. Tanpa modal dana, selepas Subuh kita pulang ke rumah menggondol pahala haji. Hebatnya lagi, kita bisa ‘berhaji’ setiap pagi, setiap hari!

Rosulullah menjadi teladan bagi ummatnya. Beliau rutin melakukan amal pagi ini. Diriwayatkan Simak bin Harb pernah bertanya kepada Jabir bin Samurah, “Apakah engkau pernah menemani Rosulullah?”. Jabir menjawab, “Ya, beliau biasa tidak beranjak dari tempat beliau sholat Subuh. Apabila matahari terbit beliaupun bergegas meninggalkan tempat sholat. Dulu para sahabat memperbincangkan masa jahiliyah yang membuat mereka tertawa, sedangkan Rosulullah hanya tersenyum.” (HR. Muslim, no.670).

Begitulah seharusnya kita, pengikut Nabi. Mengawali hari kita dengan amal yang penuh berkah ini. Insya Allah aktivitas kita sepanjang siang berikutnya diberkahi Allah Ta’ala.

Bagaimana dengan muslimah yang sholat di rumah? Memang teks hadits di atas membatasi tempatnya di masjid. Namun tidak dipahami bahwa masjid menjadi syarat tempatnya. Wanita yang memang lebih utama sholat di rumah, tentu saja bisa melakukan rangkaian amal ini di rumahnya. Apalagi ada atsar yang shahih bahwa Ibnu Mas’ud RA pernah melakukannya di rumahnya (HR. Muslim, no.822).

Shalot Isyraq

Ibnu Abbas dan para ulama menyebut dua rakaat pada hadits di atas dengan istilah sholat isyraq. Dinamakan isyraq (terbit) karena dikerjakan beberapa saat setelah terbitnya matahari. Namun hakikatnya, sholat isyraq adalah sholat Dhuha.

Shalat Dhuha yang dikerjakan di awal waktunya.

 
Didalam riwayat yang lain Rosulullah SAW lebih spesifik menyebutnya dengan sholat Dhuha. “Barang siapa yang sholat Subuh di masjid berjamaah, lalu menetap di dalamnya hingga mengerjakan sholat Dhuha, maka dia mendapat pahala seperti orang yang haji dan umrah dengan sempurna” (HR. Thabrani, no. 7663).

Penambah Semangat

Amal berhadiah haji dan umrah ini, ternyata sepi peminat. Ba’da Subuh adalah waktu rawan ngantuk. Banyak yang tidur kembali dengan dalih agar fit menjalankan aktivitas siang yang meletihkan. Padahal, tidur pagi selepas Subuh tidak baik untuk kesehatan. Membuat tubuh menjadi mudah lesu dan loyo, serta mudah terserang penyakit.

Sunah nabi waktu pagi ini justru memberi berkah tersendiri; menyehatkan dan memberi semangat. Tetapi khasiat ini tidak bisa dirasakan kecuali yang membiasakannya. Ibnu Qoyyim menuturkan pengalamannya dengan Ibnu Taimiyah, gurunya. “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu hari sholat Subuh. Setelah sholat, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling kepadaku dan berkata, “Ini adalah kebiasaanku pada waktu pagi. Jika aku tidak melakukannya, tubuhku tak bertenaga.” (Al Wabilush Shayib, hal.63).

Catatan : Bukan Pengganti Haji

Jalan murah menuju pahala haji ini bukan berarti mengalahkan keutamaan haji hakiki. Amal setara haji ini tak lebih menjadi ladang amal alternatif bagi mereka yang tertutup pintu ke baitullah. Menjadi motivasi untuk terus berlomba dalam kebaikan agar tidak tertinggal jauh oleh orang-orang yang mampu menunaikan haji. Semoga kita mudah meraup pahala haji di negeri kita sendiri dan mampu berhaji ke baitullah nun jauh di sana.

-Tim Ustadz-


Sumber:www.facebook.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar