FADHILAH SHOLAT SUNNAH WITIR

Diposkan oleh arti hidup on Minggu, 09 Juni 2013

Sholat Sunnah mendekatkan diri kita kepada Allah, semakin dekat Insya Allah makin terijabah doa dan harapan kita dan yang lebih penting sebagai bekal di akhirat kelak, Amin. Biasanya kita rajin sholat witir ketika Ramadhan, namun dibulan lain kebiasaan tetsebut mengendur padahal sholat witir memiliki kedudukan tersendiri didalam Sunnah Rosulullah SAW, bahkan Rosulullah SAW menjadikan amal yang rutin dan tidak pernah meninggalkan Sholat Sunnah Witir, baik ketika sedang berada di rumah ataupun dalam bepergian.

Insya Allah faedah Sholat witir sebagai penutup ibadah sholat pada keseharian kita dapat menyempurnakan sholat-sholat kita yang mungkin ada kekurangan.

Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rosulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala telah memberi kalian tambahan sholat, yaitu sholat Witir, maka sholat Witirlah kalian antara waktu sholat Isya hingga sholat Shubuh. [HR. Ahmad, Shahih].

Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rosulullah SAW Bersabda: Sholat Witir adalah haq (benar adanya), maka barangsiapa yang mau, maka berwitirlah lima raka'at, barangsiapa yang mau, berwitirlah tiga raka'at dan barangsiapa yang mau, berwitirlah satu rakaat. [HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Kamil Witr, (hadits no. 1421), an-Nasa-i dalam kitab, Qiyaamul Lail].

Rosulullah SAW Bersabda: Barangsiapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya sholat pada akhir malam masyhudah (disaksikan). (HR. Muslim).

(Doa / Wirid dalam Sholat Witir)

Subhaanal malikil qudduus, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. Abu Daud dan An Nasa-i).

Allahumma inni audzu bi ridhooka min sakhotik wa bi mu afaatika min uqubatik, wa audzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an alaik, anta kamaa atsnaita ala nafsik.

Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diri-Mu sendiri. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah).


Sumber:www.facebook.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar