BEBASKAN JIWA KITA DENGAN IKHLAS

Diposting oleh arti hidup on Kamis, 07 Februari 2013

Dikisahkan ada seorang ‘alim yang selalu sholat di shaf paling depan. Suatu hari ia datang terlambat, maka ia mendapat sholat di shaf kedua. Di dalam benaknya terbersit rasa malu kepada para jama’ah lain yang melihatnya. Maka pada saat itulah, ia menyadari bahwa sebenarnya kesenangan dan ketenangan hatinya ketika sholat di shaf pertama pada hari-hari sebelumnya disebabkan karena ingin dilihat orang lain. Upaya mewujudkan ikhlas bisa tercapai, bila kita mengikuti Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan jejak Salafush Shalih dalam beramal dan taqarrub kepada Allah, selalu mendengar nasihat mereka, serta berupaya semaksimal mungkin dan bersungguh-sungguh mengekang dorongan nafsu, dan selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala.

Seseorang bermaksud untuk taqarrub kepada selain Allah dalam ibadahnya, dan untuk mendapat sanjungan dari orang lain. Perbuatan seperti membatalkan amalnya dan termasuk syirik, berdasarkan sabda Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barangsiapa beramal mempersekutukanKu dengan yang lain, maka Aku biarkan dia bersama sekutunya. [HSR Muslim, no. 2985; Ibnu Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah].

Bahaya bila bertujuan dunia, akan dapat menghalalkan segala cara dalam skup nilai yang luas, bagi level pemimpin dan Mereka yang bertujuan hanya dunia semata, tidak berfikiran akhirat sama sekali maka akan terbeban dengan pencitraan, akan terbatasi dengan image, alias ja-im dimana pun bertemu dengan manusia, beramal karena manusia maka ia akan cenderung kepada amalan yang disukai manusia, namun giliran amalan yang umumnya tidak populer apalagi berkaitan dengan kemaksiatan umum yang disukai, maka ia akan bungkam. Baik dalam level pemimpin rumah tangga, ia tidak bisa penuh totalitas membawa rumah tangganya kepada Allah SWT dengan sebenarnya, semoga Allah melindungi kita dan semua keluarga mu'min.

Ibadahnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan duniawi, seperti ingin menjadi pemimpin, mendapatkan kedudukan dan harta, tanpa bermaksud untuk taqarrub ( mendekatkan diri ) kepada Allah, karena alasan tertentu lebih mendengar pendapat manusia akhirnya dakwah syariat Allah tidak didengarkan, padahal Syariat Islam demi kemaslahatan semua mahluk baik orang kafir sekalipun, dan bentuk ibadahnya para pemimpin karena aspek hukum merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT selainnya adalah bentuk pelanggaran, akan membawa bencana dimana kerusakan moral, korupsi, melanda tanpa bertemu penyesaian, walau ada itu akan sementara karena tidak dijadikan fondasi dalam kehidupan.

Amal yang bukan karena Allah dan tidak berlandaskan hukum Allah pada setiap amanah dimana manusia itu ditempatkan, maka yang seperti ini akan terhapus dan tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah, walaupun memang didunianya ia dapat banyak dalam sementara waktu yang biasanya tidak lama.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Hud : 15-16].

Di dalam salah satu kasus ibadah dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata : ‘Wahai Rosulullah, bagaimana bila seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” ( HR Abu Daud ).

Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selainNya.

Ada tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak menjadi seorang pengkhianat, yaitu : ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada pemimpin kaum muslimin, dan senantiasa komitmen kepada jama’ah kaum Muslimin. [HR Bazzar, dari sahabat Abu Said Al Khudri dengan sanad hasan. Lihat Shahih Targhib Wat Tarhib 1/104-105, no. 4].

Dahsyatnya ikhlas dihari kiamat secara khusus disebutkan amalan yang dilakukan secara ikhlas, seperti sendirian menangis karena Allah, bersedekah sembunyi-sembunyi, pemimpin yang adil berdasarkan syariat Allah karena keadilan amal yang harus sesuai dengan syariatnya dimana Syariat Islam tidak ada kepentingan pribadi murni karena Allah SWT, dan dampaknya dirasakan semua mahluk, pemuda shaleh, dan keterpautan hati kepada masjid, alangkah indahnya kalau kesemuanya ada pada diri seseorang

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَا

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

1. Pemimpin yang adil berdasarkan syariat Allah SWT
2. Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya.
3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah. ( Teman Seperjuangan, atau mereka yang bekerja demi agama Allah SWT, pengikat mereka ialah iman bukan motif selainnya, pangkatnya, senioritasnya dsb ).
5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidakmengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712).

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar