SHOLAT IBADAH UTAMA, NAH WAJIBKAH SHOLAT KHUSU' ?

Diposkan oleh arti hidup on Rabu, 29 Mei 2013

Dari Aisyah ra berkata, "saya bertanya kepada Rosulullah saw tentang menoleh dalam sholat?" Kemudian Rosul saw menjawab: "Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah setan dalam sholat seorang hamba" (HR. al-Bukhari). Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: "Janganlah anda menoleh dalam sholat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah saat di dalam ssolat sunnah"

( Makanan Terhidang )

Dari Anas ra bahwa Rosulullah saw bersabda, "Apabila hidangan makan malam telah disiapkan, maka mulailah menyantap makanan itu sebelum anda sholat Maghrib" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menurut Jumhur Ulama' menunjukkan sunnahnya mendahulukan makan malam atas sholat. Karena, hal itu akan bisa mengarahkan seseorang berkonsentrasi dalam sholatnya. Bahkan, menurut ulama yang lain, agar sanubari hati itu tidak tergoda dengan makanan yang sudah tersediakan tersebut.

( Menoleh )

Dari Aisyah ra berkata, "saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang menoleh dalam salat?" Kemudian Rasul saw menjawab: "Menoleh itu adalah suatu keteledoran seseorang akibat ulah syetan dalam salat seorang hamba" (HR. al-Bukhari). Menurut riwayat at-Tirmidzi dan menshahihkannya: "Janganlah anda menoleh dalam salat, karena itu adalah kebinasaan (dalam agama). Apabila anda harus melakukannya, maka lakukanlah dalam salat sunnah"

Seseorang yang sedang melakukan sholat, dimakruhkan menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena pada dasarnya, dia sedang menghadap Tuhannya. Sementara itu, setan selalu mengintip dan mencari-cari kelengahan orang itu. Jika seseorang dalam sholatnya menoleh ke kiri dan ke kanan, berarti dia telah masuk perangkap setan.

Menurut Jumhur Ulama', menoleh itu dimakruhkan, karena bisa mengurangi khusu' sholat. Namun, apabila menolehnya itu sampai memalingkan dadanya atau seluruh lehernya dari kiblat, maka hal itu bukan lagi makruh, melainkan bisa membatalkan sholat. Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Dzar, "Allah SWT selalu menghadap kepada seorang hamba dalam sholatnya, selama dia tidak menoleh, apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun 'pergi' ." (HR. Abu Dawud dan an-Nasa'i).

Shalat khusu’ sangat mempengaruhi besar kecilnya balasan bagi orang yang sholat. Sebagaimana sabda Rosulullah :

“Sesungguhnya bila seorang hamba telah selesai dari sholatnya, maka tidak ditetapkan balasan dari sholatnya kecuali ada yang mendapat setengahnya, ada yang mendapat sepertiganya, ada yang mendapat seperempatnya, ada yang mendapat seperlimanya, ada yang mendapat seperenamnya, ada yang mendapat sepertujuhnya, ada yang mendapat seperdelepannya, ada yang mendapat sepersembilannya, dan ada yang mendapat seperesepuluhnya.” (H.R Ashhabus Sunan).

( Shalat Khusyu penghapus dosa )

Dari sahabat Utsman bin Affan berkata: “Aku mendengar Rosulullah bersabda:

“Tidaklah seorang muslim, bila telah datang waktu sholat wajib lalu membaikkan wudhu’nya, khusu’nya, dan ruku’nya, melainkan itu sebagai penghabus dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar.” (H.R Muslim no. 228).

Ada beberapa hal yang memudahkan untuk menghadirkan kekhusu’an. Diantaranya;

a. Mengingat mati.

Rosulullah bersabda:
“Ingatlah mati dalam sholatmu, karena bila seseorang mengingat mati dalam sholatnya, maka ia akan berupaya untuk memperbaiki sholatnya.” (Ash Shahihah no. 1421).

Dalam riwayat lainnya; Rosulullah berkata kepada Ayub Al Anshari:

“Jika kamu hendak sholat, maka sholatlah seperti sholatnya orang yang hendak berpisah (meninggalkan dunia).” (H.R. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no.742).

b. Mendatangi Sholat Dengan Sakinah (Tidak Terburu-Buru).

 
Rosulullah bersabda:
“Bila telah ditegakkan sholat, maka jangan mendatanginya dengan lari (terburu-buru), namun berjalanlah dengan sakinah (tenang). Apa yang kalian dapati dari sholat (jama’ah) maka sholatlah dan apa yang tertinggal maka sempurnakanlah.” (H.R. Muslim no. 602).

c. Mengerjakan Shalat dengan Thuma’ninah.

Rosulullah bersabda:
“Sejelek-jelek manusia adalah pencuri, yang mencuri sholatnya. (Ada seseorang yang berkata): ‘Wahai Rosulullah: ‘Bagaimana ia mencuri sholatnya? Rosulullah bersabda: “Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (Shahihul Jami’ no. 997).

d. Mengarahkan Pandangannya Ke Tempat Sujud dan Jangan Menoleh.

Aisyah berkata:
Apabila Rosulullah sholat, maka beliau, menundukkan pandangannya ke tanah (tempat sujud).” (Lihat Shifat Shalatin Nabi hal. 89).

Rosulullah bersabda:

“Jika kalian sholat maka janganlah kalian menoleh, karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya ke wajah hambanya dalam sholatnya selagi ia tidak menoleh.” (H.R. At Tirmidzi dan lainnya).

d. Menghayati Bacaan Al Qur’an, do’a-do’a dan dzikir- dzikir.

 
Shahabat Hudzaifah berkata:
“Bila Rosulullah melewati ayat yang berkenaan dengan tasbih, maka beliaupun bertasbih. Dan bila melewati ayat yang berhubungan dengan kenikmatan (rahmat), maka beliau pun memohonnya. Serta bila melewati ayat yang berhubungan dengan adzab, maka beliau berlindung darinya.”(H.R. Muslim no. 772).

Diantara sebab yang dapat membantu untuk dapat menghayati bacaan-bacaan sholat diantaranya; membaca al qur’an dengan tartil. Allah berfirman (artinya): “Dan Bacalah Al Qur’an dengan tartil.” (Al Muzammil: 4).

Demikian pula dengan suara yang indah. Karena Rosulullah bersabda:

“Perindahlah Al Qur’an dengan keindahan suara kalian. Karena suara yang indah dapat menambah keindahan Al Qur’an.”(H.R. Al Hakim, lihat Shahihul Jami’ no. 3581).

-Tim Ustadz-


Sumber:www.facebook.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar