ROSULULLAH SAW MANUSA YANG AGUNG BAGI YANG INGIN LAPANG KEHIDUPANNYA

Diposkan oleh arti hidup on Selasa, 29 Januari 2013

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa Rosulullah saw adalah pribadi yang sangat sederhana? Syaikh Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, dalam kitab MADINAH (MAjlis DIrasah Ihya' assunnah wal jama'AH) Tahliliyyah li Syakhsiyyah ar-Rasul Muhammad, memberikan penjelasan. “Jika kita ingin membuat gambaran jelas nan jernih tentang kezuhudan Rosulullah saw, maka kita harus mengetahui makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan simpanannya,” kata Profesor Rawwas.

Tempat tinggal beliau bukanlah istana megah, tetapi hanya sebuah ruangan untuk setiap istrinya. Di dalamnya beliau tidur, duduk, makan, dan menerima tamu. Perabotannya pun sangat sederhana dan murah. Kasur dan bantal Rosulullah saw terbuat dari kulit yang diisi dengan serabut.

Sesungguhnya Rosulullah tidak pernah menyimpan harta atau benda lainnya. Anas bin Malik berkata, ”Rosulullah saw tidak menyimpan sesuatupun untuk hari esok.” Cukuplah kita mengetahui bahwa ketika Rosulullah wafat, beliau tidak meninggalkan sesuatupun kecuali sebuah pedang, seekor keledai dan sebidang tanah yang disedekahkan di jalan Allah.

( Index Hadist Shahih Muslim )

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Sejak berpindah ke Madinah, keluarga Muhammad tidak pernah merasa kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5274).

Hadis riwayat Aisyah
ra., ia berkata:
Kami, keluarga Muhammad sering hidup selama satu bulan tidak menyalakan api (memasak), karena makananannya hanya kurma dan air. (Shahih Muslim No.5280)

Hadis riwayat Aisyah
ra., ia berkata:
Ketika Rosulullah wafat, di lemariku tidak ada sesuatu yang dapat dimakan manusia, kecuali setengah roti gandum yang berada dalam sebuah lemari milikku lalu aku memakan sebagian untuk beberapa lama, kemudian aku timbang ternyata telah habis. (Shahih Muslim No.5281).

Hadis riwayat Aisyah
ra., ia berkata:
Rosulullah wafat ketika orang-orang sudah kenyang memakan kurma dan air. (Shahih Muslim No.5284).

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Dalam riwayat Ibnu Abbad: Demi Tuhan yang jiwa Abu Hurairah berada dalam genggaman-Nya, belum pernah Rosulullah membuat keluarganya kenyang selama tiga hari berturut-turut dengan roti gandum sampai beliau wafat. (Shahih Muslim No.5286).

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya) ( HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih ).

( Hikmah Kehidupan )

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga.

Keterbalikan antara keberkahan dan kekikiran sangat tipis, ketika mendapat karunia harta disikapi dan tidak dianggap lagi sebagai amanah untuk diinfaqkan, jadilah manusia rawan jauh dari rasa syukur, akibat angan-angan panjang yang didapat dari kemewahannya yang sesaat dan akan menjadi kenangan. Diserahkannya kepada dunia sebagai tambatan rejekinya dengan berbagai macam strategi, dan berpalingnya dia dari Allah SWT sebagai sebaik-baiknya pemberi rejeki. Manusia hanyalah tinggal memilih diwaktu yang fana ini.

Bagaimanapun persepsi, dan perkiraan beserta pendapat para multi motivator seluruh dunia mungkin, dengan kaca mata iman kita bisa memandang bahwa Rasulullah SAW adalah yang terbaik dalam dunia dan akhiratnya, bila hidup ingin lepas dari beban, serta kepenatan akibat hati tertaut kedunia, bukan dirinya menguasai harta, tetapi malah dikuasai oleh harta menahan infaq dan terus berangan-angan, konteks kesempurnaan dalam persepsi ini sebagai orang yang beriman, maka bila ingin kebaikan harus dipulangkan kepada uswatun hasanah kita karena beliau memegang kebaikan dunia dan akhirat. Baik sisi moral, hukum dalam mencari nafkah, serta perjuangan yang mengiringi kehidupannya yaitu bergerak terus menegakkan nilai-nilai Islam kepada keluarga dan masyarakatnya. Bukan profil yang ingin masuk syurga sendirian.

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar