JAMINAN RIZKI SELAMA HIDUP DI DUNIA

Diposkan oleh arti hidup on Rabu, 12 Juni 2013

Setiap manusia yang diciptakan oleh Allah S.W.T. telah ditetapkan rizki untuknya. Sejak di dalam kandungan ibunya, Allah S.W.T. yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang telah menjamin rizki untuk semua makhluknya, dari sekecil-kecilnya makhluk (kuman) hinggalah sebesar-besarnya (ikan paus) dan tidak dikurangkan sedikit pun daripadanya. Manusia diminta untuk berusaha, berdoa dan bertawakkal nescaya ia akan mendapat dan memiliki rizki yang telah disedaikan oleh Allah SWT dimuka bumi ini.

Firman Allah SWT yang bermaksud : “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan keperluannya.” (Surah At-Talaq ayat 2-3)

Kunci rizki dan perbendaharaan Allah S.W.T. hanya berada ditangan-Nya dan Dia akan membuka pintu rizki ini seluas-luasnya kepada hamba-hamba-Nya yang banyak beristighfar, bersedekah, sentiasa berwudhu, memperhatikan syariatnya, menghubungkan silaturahim, sholat dhuha, sholat tahajjud , berzikir dan membaca al-Quran. Amalan-amalan soleh ini jika diamalkan akan membina jambatan hati kita dengan Allah S.W.T. dan apabila Dia kasih dan sayang pada kita maka segala permohonan dan doa kita dimakbulkan-Nya dan di kurniakan rizki di jalan yang tiada disangka-sangka.

Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rizki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rizki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta'ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta'ala akan ridho apabila rizki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rizki itu jatuh ke tempat maksiat.

Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rizki yang telah ditebarkan Allah Ta'ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rizki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rizki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba.

Mencari rizki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rizki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rizki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rizki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rizkinya masing-masing. Sebagaimana Allah berfirman, "Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya."

Rizki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rizki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rizkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur an "Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah."


Sumber:www.facebook.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar