KERUSAKAN DI MUKA BUMI YANG DAHSYAT

Diposkan oleh arti hidup on Sabtu, 06 April 2013

Kebanyakan manusia yang hidup di zaman sekarang ini, hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Ini merupakan efek dari dominasi hawa nafsu dan cinta dunia dalam diri mereka. Mereka tidak tergerak untuk memahami hakekat semua kejadian tersebut, karena mereka tidak memiliki keyakinan yang kokoh terhadap perkara-perkara gaib (yang tidak nampak) dan mereka melupakan kehidupan abadi di akhirat nanti.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai [ar-Rûm/30:7]

Allâh Jalla Jalaluhu berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41].

Tafsir : "Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allâh di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik dengan sebab ketaatan (kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala -pent)" [Dinukil oleh Imam Ibnu Katsîr dalam tafsir beliau (3/576)]

Jadi, kembali kepada petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan Rosûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara mempelajari, memahami dan mengamalkannya adalah solusi untuk menghilangkan kerusakan di muka bumi dalam segala bentuknya, bahkan menggantikannya dengan kebaikan, kemaslahatan dan kesejahteraan. Karena memang agama Islam disyariatkan oleh Allâh Azza wa Jalla Dzat yang maha sempurna ilmu dan hikmah-Nya [19] untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup manusia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allâh dan seruan Rosûl-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) [20] hidup bagimu" [al-Anfâl/8:24].

"(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya bisa diraih dengan memenuhi seruan Allâh dan Rosûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allâh dan Rosûl-Nya maka dia tidak akan merasakan (kebahagiaan-red) hidup, meskipun dia masih hidup sebagaimana binatang yang paling hina (sekalipun). Maka hidup bahagia yang hakiki adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allâh dan Rasûl-Nya secara lahir maupun batin" [al-Fawâ-id (hlm. 121- cet. Muassasatu Ummil Qurâ')] .

Dalam ayat lain Allâh Jalla Jalaluhu berfirman :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, Kami pasti akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya [al-A’râf/7:96].

Artinya, kalau saja mereka beriman dalam hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan dengan amal sholeh serta merealisasikan ketakwaan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala lahir dan batin dengan meninggalkan semua larangan-Nya, maka niscaya Allâh akan membukakan (pintu-pintu) keberkahan di langit dan bumi bagi mereka. Allâh Azza wa Jalla akan menurunkan hujan deras (yang bermanfaat) dan menumbuhkan tanam-tanaman untuk kehidupan mereka dan hewan-hewan (ternak) mereka. (Mereka akan hidup) dalam kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah, tanpa ada jerih payah, keletihan maupun penderitaan. Namun (kenyataanya-red) mereka tidak beriman dan bertakwa, akhirnya Allâh menyiksa mereka karena perbuatan (maksiat) mereka” [Taisîrul Karîmir Rahmân (hlm. 298)].

 
Oleh karena itu, orang-orang yang mengusahakan perbaikan di muka bumi yang sebenarnya itu adalah orang-orang yang menyeru manusia agar kembali kepada petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan Rosûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan mengajarkan dan menyebarkan tauhid dan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia.

Mereka inilah orang-orang yang menciptakan kemaslahatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya, tidak terkecuali hewan-hewan di daratan maupun lautan. Mereka ikut merasakan kebaikan tersebut. Sehingga mereka senantiasa mendoakan kebaikan dari Allâh untuk orang-orang tersebut, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada mereka[23] .

Rosûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan ilmunya kepada manusia) akan selalu dimohonkan pengampunan dosanya oleh semua makhluk yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai (termasuk) ikan-ikan yang ada di lautan… .[HR at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Mâjah (no. 223)].

Sekaligus ini menunjukkan bahwa kematian orang-orang berilmu yang selalu mengajak manusia kepada petunjuk Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasûl-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pertanda akan munculnya malapetaka dan kerusakan dalam kehidupan manusia. Karena dengan wafatnya mereka, akan berkurang penyebaran ilmu tauhid dan sunnah Rosûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah manusia. Ini merupakan sebab timbulnya kerusakan dan bencana dalam kehidupan.

Dalam hal ini, imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan, “Kematian orang yang berilmu merupakan kebocoran (kerusakan) dalam Islam yang tidak bisa ditambal (diperbaiki) oleh apapun selama siang dan malam masih terus berganti” [Diriwayatkan oleh imam Ad-Darimi dalam kitab “as-Sunan” (no. 324) dengan sanad yang shahih. ].
Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar