TERANG BULAN YANG KEMBALI

Diposkan oleh arti hidup on Sabtu, 30 Maret 2013

Sehabis maghrib, ramai anak-anak mengaji disurau-surau dan keluarga muslim yang mengaji bersama, diiringi suara jangkrik yang bertasbih Bersahut-sahutan indah.

Terang bulan biasanya anak-anak berlari-lari sehabis Isya, ditemani para orangtua bercengkrama dipinggir rumah, sesekali sinar-sinar kunang-kunang berkelebat menghiasi suasana kampung

Kini terang bulan berganti dengan terangnya layarkaca. Tidak lagi ngaji, sholat berjamaah tetapi yang ada adalah menonton sinetron berjamaah, dimana suaranya bukan lagi lantunan ayat suci tetapi ketawa-ketiwi membuang umur sia-sia.

Hasil pengajian layar kaca, maka bergantilah kudungan pengajian rumah, dan jilbab pengajian surau.

Lantunan pengajian berganti dengan suara-suara parau centilisme, gosipisme, para muda-mudi bercampur-ria dengan aurat-aurat seperti bergaya sinetron remaja metropolitan masa kini, rasa dosa, rasa malu, telah punah karena tersihir menganggap diri bergaya artis metropolitan disinetron, layar lebar. Na'udzubillah Min Dzalik. Semoga Allah bukakan pintu hati mereka.

Kini suasana hampir kembali dipengajian dhuafa pada beberapa lokasi, wadah yang tidak terekspos biarlah bagaikan menyesuaikan dengan wajah-wajah dhuafa yang lugu dan polos, dimana nasib mereka terabaikan, namun dimulut mereka ada doa mustajab, tiada TV, tiada ambisi, sentuhan Islam memudahkan mereka dalam ketaatan, cinta bangun malam tanpa paksaan dan keadaan, keadaan Rahmat meneduhkan sebagian para Ustadz kota. Dhuafa Terlatih ikhlas, terlatih bersabar, semoga sentuhan mereka merahmati negeri ini dan dunia.

Sumber: http://www.facebook.com/pages/Yusuf-Mansur-Network/109056501839

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar